Ikhtiar Akademik Putra Massenrempulu: Dari Kearifan Lokal ke Arsitektur Pembelajaran Fisika Digital

Penakaminews.com – Fisika sering dibayangkan sebagai disiplin yang dingin: rumus, grafik, simbol, dan eksperimen. Namun bagi Imam Permana, S.Pd., M.Pd., putra Massenrempulu asal Kabere, Fisika Dasar justru dapat menjadi ruang perjumpaan antara teknologi, pedagogi, asesmen, kearifan lokal, dan nilai spiritual. Gagasan inilah yang ia tuangkan dalam disertasinya melalui pengembangan bahan ajar digital bernama **Fiskonautra 3C**.

Fiskonautra 3C bukan sekadar e-modul yang dipindahkan ke layar. Produk ini dirancang sebagai arsitektur pembelajaran berbasis microsite Carrd.co yang terhubung dengan Liveworksheet. Di dalamnya terdapat materi, video, simulasi, lembar aktivitas, pertanyaan pemantik, asesmen autentik, dan ruang refleksi. Nama Fiskonautra merangkum unsur fisika, konstruktivisme, authentic assessment, dan trajectory, sedangkan 3C merujuk pada tiga orientasi utama: pemahaman konsep, kompetensi pedagogik, dan karakter spiritual calon guru fisika.

Salah satu kekhasan Fiskonautra 3C terletak pada keberanian menghadirkan kearifan lokal Sulawesi Selatan sebagai bahasa pedagogik. Imam menggunakan istilah *beppa*, yaitu kudapan lokal, sebagai metafora fitur tambahan dalam bahan ajar. **Barongko** dihadirkan sebagai jembatan pengetahuan yang menghubungkan fisika dengan agama, budaya, teknologi, dan kehidupan. **Bannang-bannang** menjadi ruang reflektif untuk melatih calon guru membaca miskonsepsi dan dilema pembelajaran. **Katirisala** membantu meluruskan pemahaman keliru, sedangkan **Jalangkote** mengajak mahasiswa berjalan lebih jauh melalui tautan eksplorasi, simulasi, dan bahan bacaan tambahan.

Kearifan lokal dalam produk ini tidak ditempatkan sebagai hiasan, tetapi sebagai jalan pedagogik untuk mendekatkan fisika dengan pengalaman mahasiswa. Dalam forum promosi doktor, salah satu jawaban yang dinilai berkesan oleh audiens muncul ketika Imam menjelaskan alasan akademik di balik penggunaan istilah lokal tersebut. Ia mengaitkannya dengan teori *culturally responsive teaching* dan *funds of knowledge*, bahwa pengalaman budaya, bahasa lokal, dan pengetahuan yang hidup dalam komunitas dapat menjadi sumber belajar yang sah, bukan sekadar ornamen pembelajaran.

Keunikan lain Fiskonautra 3C terdapat pada penggunaan **Authentic Assessment Based on Teaching-Learning Trajectory with Student Activity Sheet**. Melalui pendekatan ini, asesmen tidak hanya hadir di akhir pembelajaran sebagai pemberi nilai, tetapi menyatu dengan proses belajar. Respons mahasiswa dapat terekam, perkembangan pemahaman dapat dibaca, dan dosen memperoleh jejak tentang bagaimana mahasiswa membangun konsep. Dengan demikian, pembelajaran fisika tidak hanya bertanya “berapa skor akhirnya”, tetapi juga “bagaimana mahasiswa sampai pada pemahaman itu”.

Dalam konteks calon guru fisika, pendekatan ini memiliki makna strategis. Mahasiswa tidak hanya dilatih menyelesaikan soal, tetapi juga mulai belajar melihat fisika dari sudut pandang pendidik. Mereka diajak memahami konsep, membaca kemungkinan kesalahan siswa, memilih representasi, mendiskusikan gagasan, serta memikirkan bagaimana konsep fisika kelak dapat diajarkan secara lebih bertanggung jawab. Pada saat yang sama, fitur refleksi spiritual memberi ruang agar keteraturan alam tidak hanya dipahami secara ilmiah, tetapi juga dimaknai sebagai jalan menumbuhkan syukur, kesadaran, dan etika keilmuan.

Ikhtiar akademik ini menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu harus lahir dari teknologi yang rumit. Kadang, kebaruan justru muncul ketika teknologi modern bertemu dengan akar budaya, ketika asesmen tidak lagi dipahami sebagai akhir pembelajaran, dan ketika fisika tidak berhenti sebagai rumus di papan tulis. Dari Bumi Massenrempulu, Fiskonautra 3C menawarkan pesan penting: pembelajaran abad ke-21 tidak cukup hanya digital; ia perlu berakar, bernalar, terukur, dan bernilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *